oleh

Hilangkan Penat, Sunset di Pantai Gumumae Solusinya

Bula. Pancara merah memancar dari kaki langit menjelang detik-detik terbenamnya matahari Di ufuk barat, dri pantai Gumumae, Kota Bula Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Ya… Pantulan sinar kemerahan ini langsung menyentuh daun-daun cemara yang berbaris rapih sepanjang bibir pantai itu.

Awan yang memerah pun mengantar perahu nelayan kembali ke pendaratannya di sebuah perkampungan kecil di sudut kota bula atau yang biasa di sebut kampong Nelayan.

Begitulah Nuansa matahari terbenam, yang terlihat secara langsung di Pantai yang di hiasi bagian dalamnya dengan vegetasi Mangrove.

Begitulah keindahan Pantai Gumumae yang terletak di sudut Kota Bula Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku ini menghadirkan sebuah sensasi yang menggairahkan.

Suasana pantai yang jauh dari kebisingan, disana hanya terdengar suara burung yang bersahutan di balik kerimbunan hutan mangrove, serta bayang- bayang kegelapan di bawah dedauan cemara, seakan memicu adrenalin para petualang melarutkan senja dalam kesendirian.Pantai Gumumae merupakan salah satu objek wisata bahari yang berada di pesisir areal pengembangan Kota Bula.
Dahulu menurut cerita orang tetua, Pantai Gumumae atau Tanjung Sesar dulunya hanyalah sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat persinggahan para nelayan saat pulang melaut, Sebelum kembali ke Kampung Sesar.

Kapung sesar adalah kampong nelayan yang berada di ujung tanjung sesar yang kini berubah nama menjadi pantai Gumumae.

krateristik pantai Gumumae ini, cukup unik dan membentuk telaga air asin yang menjolok jauh masuk ke dalam hutan bakau.

Setelah pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur, di bawah pimpinan Bupati Abdullah Vanath mengambil alih fungsi tanjung ini sebagai model pengembangan kawasan wisata bahari berbasis ekosistem lingkungan, dan mangrove.

Dan seketika dahulu di kenal dengan Tanjung Sesar kini pun tanjung tersebut berubah nama menjadi Pantai Gumumae.

Pantai gumumae ini dalam bahasa Kabupaten Seram Bagian Timur, yang Artinya¬†“Mari Berkumpul Di Pantai”

Pantai ini memiliki bentangan pantai yang panjang dan didominasi oleh vegetasi cemara pantai.

Vegetasi cemara pantai hidup berkelompok di pesisir pantai dan membentuk pemandangan alam yang menyegarkan saat menikmati terbenamnya matahari saat senja itu tiba.

Pasir pantainya berwarna kuning kecoklatan, hampir sama dengan tipologi Pantai Kute di Pulau Dewata Bali.

Pada musim-musim tertentu, gelombang laut biasanya datang bergulung-gulung, namun tidak cukup untuk mendukung wisata selancar air.

Meskipun kelihatan tenang, namun dibalik ketenangan airnya, terkadang tersimpan arus kencang yang berbahaya bagi pelancong atau petualang yang berenang terlalu jauh dari pesisir pantai.

Meski Peraiannya yang landai dan berpasir, namun pantai ini, sesering kali tak aman bagi mereka yang baru belajar berenang jika menjauh dari bibir pantai.

Di bagian depan pantai Gumumae ini dihuni vegetasi cemara, sementara di bagian dalam pantai Gumumae ini, dihuni vegetasi hutan mangrove yang dalam bahasa lokalnya di sebut mangge-mangge. Di pantai gumumae vegetasi mangrove ini, umum Terdapat tiga jenis mangrove, namun sangat dominasi, oleh dua jenis yakni Rhizaporra sp dan Aveccinia sp. Dan di tengah rimbunnya mangrove tersebut, terdapat juga mangrove jenis Nip sp.

Rimbunnya pohon cemara dan hutan mangrove ini, seakan membuat lokasi ini, tampak angker di waktu senja.

Namun menikmati indahnya matahari terbenam atau sunsit di Pantai Gumumae ini merupakan sebuah sensasi yang maha dahsyat jika di nikmati di waktu-waktu yang cerah.

Potret keindahan matahari terbenam yang tersaji di pantai ini, seyogyanya dilegitimasi sebagai pantai matahari terbenam di Kota Bula.

Namun wisata sunsit justru tidak dieksplore sebagai ikon. Namun pantai Gumumae justru lebih condong di promosikan sebagai wisata konvensional.

Loading...