oleh

CV. SBM Di Duga Serobot Hutan Adat, Warga Sabuai Minta Perhatian Pemda dan DPRD SBT

Bula. Pada Senin 17 februari 2020 lalu, warga masyarakat sabuai lakukan pemalangan terhadap CV. SBM di hutan Gunung Ahwale Kecamatan Siwalalat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Masyarakat Sabuai menduga perusahan kayu tersebut melakukan loging kayu yang bernialai ekonomis tinggi itu menerobos hingga masuk kedalam hutan adat milik masyarakat Negeri Sabuai.

Tidak terima dengan perilaku perusahan kayu CV. SBM, Warga Negeri Sabuai nekat lakukan perjalan kaki selama 2 jam menuju tempat beroperasi CV, SBM di Gunung Ahwale, setibah di lokasi warga melihat CV. SBM melakukan aktivitas penebangan.

Warga yang melihat ada lima orang operator yang melakukan aktivitas penebangan langsung di cegat, dan pemberhentian terhadap aktivitas perusahan yang di duga telah menyerobot hutan adat Negeri Sabuai itu.

Aksi protes warga ini, berbuah adu mulut dan pelemparan kaca serta penyitaan kunci alat berat. Tindakan masyarakat ini adalah bentuk akumulasi kekecewaan dan keresahan masyarakat sabuai, karena menilai perusahan kayu tersebut telah melakukan eksploitasi menyerobat, hutan adat dan mengambil kayu secara ilegal.

Warga juga mengaku, akibat aktivitas ini, warga sabuai telah melakukan 3 kali langka pencegahan, bahkan proses pembuataan sasi adat pun di lakukan, namun perusahan CV.SBM tidak mengindahkan hal tersebut.

Ungkapan warga sambuai, mereka melakukan pemelangan semata-mata hanya ingin membela hak-hak adat masyarakat Sabuai, Kecamatan Siwalalat, Seram Bagian Timur Maluku.

Warga sambuai menilai perusahan CV. SBM telah merampas hak ulayat mereka, sebab  di hutan Gunung Ahwale itu memiliki kayu bernilai ekonomis penting, selain kayu di hutan itu juga, banyak tersimpan peninggalan para leluhur mereka, termasuk kuburan para leluhur mereka.

Niko Ahwalam menjelaskan, hutan gunung Ahwale merupakan Kampung Lama dari masyarakat Sabuai, di situ tersimpanya berbagai wasiat para leluhur mereka.  Dan tidak diberikan kepada pihak mana pun untuk melakukan di eksploitasi.

Hutan dan Gunung ini, adalah kampung kami mana mungkin kami berikan untuk di ekploitasi, disana juga terdapat peninggalan dan kuburan leluhur kami”paparnya

Namun di sayangkan, Bukan keadalan yang di dapat atas tahan dan hak ulayat  masyarakat negeri Sabuai Kecamatan Siwalalat, namun pihak perusahan, justru mempolisikan sedikitnya 26 warga sabuai di polsek Werinama.

Niko Ahwalam ketua saneri Negeri Sabuai, berharap pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Seram Bagian Timur, DPRD Seram Bagian Timur, untuk segera membijaki persoalan ini, karena kami merasa di tindas atas hak Ulayat kami sebagai masyarakat.

“Ini hak ulayat kami, kami di tindas diatas negeri kami, kami berharap ada niat baik dari pemerintah SBT, DPRD SBT agar melihat kami, jangan biarkan kami hidup dan di tindas diatas kampung kami” pintahnya

Loading...